Bimala Henggar Nusantara’s POV.
Sering kali kita tidak bisa memilih alur kehidupan yang harus dijalani. Bukan tidak bisa memilih, tapi kita dipaksa untuk memilih jalan itu. Meski itu takdir, terkadang kita tak punya kemampuan untuk menerimanya, bahkan bisa jadi ada yang terlalu kecil untuk sekedar tahu bahwa itu yang dinamakan takdir.
Bisingnya deru mesin diselingi suara klatson yang bersahutan dari kendaraan bermotor yang melintas sepanjang pintu besar Kota Tua begitu juga para pejalan kaki yang melintas menuju Kota tua dan Pancoran berhilir mudik melewati para pelukis dipinggir jalan yang bertopang pada sisi bangunan tua bekas peninggalan zaman belanda yang sebagian temboknya lembab oleh tetesan air hujan, terlihat para pelukis jalanan yang asyik menikmati setiap goresan yang ditorehkan tangan lihainya di atas kain kanvas.
Siang ini gue sudah terjebak ditengah-tengah macetnya Jakarta di hari minggu, gue baru ingat kalau orang-orang banyak menghabiskan waktu di kota tua ketika weekend tiba. Biasanya gue akan mengomel ketika terjebak macet karena sudah terlalu jenuh, tapi hari ini berbeda. Gue tidak mau membuat mood gue rusak apalagi karena macet karena hari ini adalah hari spesial.
Kiona baru saja merilis buku keduanya yang berjudul “Mantra Mantra” yang tentunya disambut antusias oleh para pembaca setianya yang luar biasa banyaknya. Kalau ditanya apakah gue bangga? Jelas gue bangga sekaligus kagum. Sejak dulu Kiona selalu terlihat keren dimata gue dengan semua hal yang dia lakukan. Sudah gue bilang kalau Kiona itu cewek keren.
Sedikit balik ke masa belakang—beberapa tahun yang lalu—masa dimana gue pertama kali bisa kenal dengan Kiona. Kenal dengan dia adalah salah satu masa-masa terbaik hidup gue. Gue ingat waktu pertama kali dia datang ke ruang mading buat ambil lembar formulir pendaftaran, tatapan matanya yang terlihat antusias ketika melakukan wawancara masih tergambar jelas apalagi ketika dia berhasil bergabung di club mading.
Saat itu gue sadar kalau club mading kedatangan sosok yang sangat luar biasa dan berjasa bukan cuma untuk kita anggota mading, tapi juga sekolah dan korban pelecehan yang berhasil mendapat haknya kembali berkat Kiona. Jasa yang Kiona berikan terlalu luar biasa.
Dan sejak itulah gue menaruh perasaan pada Kiona. Siapa sih yang ngak akan jatuh hati pada perempuan hebat itu? Belum lagi ketulusan hatinya, dapat terlihat jelas ketika dia ketemu dan bermain bersama abang Bimo—abang gue yang mengidap autisme—di rumah bersama ikan-ikan di aquarium.
Suka sama Kiona sedikit menimbulkan rasa insecurity dalam diri gue—gue merasa kalau Kiona terlalu sulit untuk dimiliki. Yang tanpa gue sadari jika Kiona juga memiliki perasaan yang sama dengan gue. Sebut gue bodoh karena hanya memendam perasaan ini terlalu lama.
Gue beneran sayang sama Kiona. Tapi rasa sayang yang selama ini gue sembunyikan justru menyakiti dirinya tanpa gue sadari. Gue menyakiti Kiona terlalu dalam. Gue malah memberi tahu dirinya tentang hubungan gue dan Keffa begitu pulang acara prom night. Saat itu gue tidak ada pilihan, gue cuma nggak mau lagi kejadian seperti Ocha kembali terulang. Gue takut. Gue trauma.